Pendidikan & Kesehatan

Stop Kekerasan & Bullying Pada Anak Disekolah

Karakter bully ini banyak membuat ketakutan dan cenderung adalah mereka yang dihindari oleh para peserta didik karena perilaku mereka yang tidak menyenangkan

Beritasepekan.net (Jakarta) – Seorang peserta didik menghabiskan waktu di sekolah dari mulai pagi hingga petang. Selain menambah keahlian dan kreatifitasnya dalam pembelajaran dan pendidikan, ia juga belajar untuk bergaul dengan orang lain dalam lingkungan institusi pendidikan tersebut.

Mungkin ia belajar untuk mengenal si cengeng, si pemarah, si komedian, si cantik, si pemimpin dan lain sebagainya. Namun ia juga mulai mengenal bentuk karakter lain yang akhir-akhir ini mulai menjadi sorotan banyak pihak. Yaitu si bully.

Karakter bully ini banyak membuat ketakutan dan cenderung adalah mereka yang dihindari oleh para peserta didik karena perilaku mereka yang tidak menyenangkan. Kekerasan di institusi pendidikan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik antar teman, antar siswa, antar geng di sekolah, kakak kelas, bahkan guru. Lokasi kejadiannya mulai dari ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa, tetapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma. Pada kasus Don Bosco yang kini banyak dibicarakan, perilaku bullying ini bahkan membuat korbannya harus dirawat di rumah sakit karena mengalami luka-luka yang cukup parah.

Bullying berasal dari bahasa Inggris yaitu “bully” yang artinya menggertak atau menggangu. Mereka bisa mengganggu secara fisik atau emosional. Kasus bullying ini sebaiknya mulai menjadi salah satu pusat perhatian bagi para pendidik dan para guru karena masalah ini terus saja meningkat kadar dan kasusnya dari tahun ke tahun.

Dan kaitannya dengan pendidikan karakter dan motivasi belajar siswa, salah satu kutipan mengenai bullying secara verbal bisa digambarkan sebagai berikut,”Sticks and stones may break your bones but mean words can tear holes in your spirit”[anonymous]. Yang artinya adalah “tongkat dan batu dapat mematahkan tulangmu, tapi ucapan yang jahat dapat menghancurkan semangatmu”.

Perilaku bullying dapat menghancurkan semangat dan motivasi siswa dan terutama menciptakan situasi yang tidak nyaman untuk belajar. Karena itu perilaku bullying ini perlu mendapatkan pemahaman dan perhatian lebih lanjut.

Bullying Fisik
Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa.

Yang termasuk jenis penindasan secara fisik adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barang-barang milik anak yang tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.

Bullying Verbal
Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar-bingar yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya.

Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip. bahwa dampak bullying adalah sebagai berikut :

  • Mengalami kesulitan membina hubungan interpersonal
  • Takut datang ke sekolah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Ketinggalan pelajaran
  • Dampak fisik:sakit kepala,flu,sakit dada
  • Dampak psikologis:emosi negatif seperti marah, dendam , kesal,tertekan, takut,malu,sedih dsb.
  • Dampak psikologis ekstrim:rasa cemas berlebihan, ingin bunuh diri
  • Berikut ini adalah beberapa contoh kasus bullying yang terjadi di SMA di Jakarta seperti dikutip dari laman ANTARA :

Kasus Bullying di SMA 90 Jakarta
Para junior disuruh berlari, push up dan bahkan berkelahi di lapangan Bintaro oleh para seniornya. Bila juniornya menolak, maka akan ditampar keras. Hal ini berlangsung dari pagi hingga petang. Tercatat 31 siswa yang melakukan peristiwa bullying tersebut.

Kasus Bullying SMA 82 Jakarta
Seorang siswa kelas 1 bernama Ade hendak mengambil catatan geografinya yang tertinggal di kelas, namun ia melewati koridor khusus untuk anak kelas 3. Yang dinamakan “koridor Gaza”. Selain dipukuli dan ditendangi oleh sekitar 30 siswa, ia juga terpaksa dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka cukup parah.

Kasus Bullying SMA 46 Jakarta
Seorang siswa bernama Okke sering dipinjami motor oleh seniornya yang berinisial B. Namun ia meminjamnya dengan cara kasar dan mengembalikannya juga dengan seenaknya. Karena kesal maka Okke tidak lagi menggubris B, akibatnya ia dipukuli, diludahi dan sebagainya. Kini Okke lebih memilih untuk home schooling.

Kasus Bullying SMA 70 Jakarta
Vhia dipukuli oleh 3 orang seniornya dengan alasan karena ia tidak menggunakan kaos dalam (singlet). Peraturan tersebut dibuat oleh para seniornya dan bukan oleh sekolah.

Kasus Bullying SMA Don Bosco Pondok Indah
Kasus ini menimpa junior yang dilaporkan mengalami tindak kekerasan berupa pemukulan dan sundutan rokok saat masa orientasi siswa. Saat ini kasus masih diproses dan dikabarkan polisi telah menahan 7 tersangka

“A” Guru SDN di Majalengka, Jawa Barat mencukur siswanya pada 19 Maret 2012. Atas hal ini, “I” sebagai orangtua murid mempolisikan guru tersebut.

Jaksa lalu mendakwa A dengan 3 pasal sekaligus yaitu:

1. Pasal 77 huruf a UU Perlindungan Anak tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak.
2. Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak tentang penganiayaan terhadap anak.
3. Pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan

Sejauh ini Komisi Perlindungan Anak (KPA) telah mencatat pada tahun 2011 terjadi 139 kasus bullying dan pada tahun 2012 ini telah tercatat sejumlah 36 kasus.

Kak Seto, pakar pendidikan anak menambahkan bahwa di Indonesia mesti adanya perbaikan sistem dalam dunia pendidikan Indonesia karena kasus bullying ini terjadi baik di tingkat SMA hingga ke tingkat TK.

UU Sisdiknas Nomor 20/2003 yang menyebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Terhadap ketentuan pidana diatas diatur didalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) yang dapat ditindak sewaktu-waktu ketika Bullying terjadi. Selain terhadap sanksi hukum diatas yang dapat dikenakan terhadap pelaku Bullying, anak yang berada dalam bangku sekolah dilindungi secara khusus didalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yaitu :

Pasal 54
Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembagapendidikan lainnya.

Dengan ketentuan pidana sebagai berikut :

Pasal 80
Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat(2), dan ayat(3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.(TJA)

Tags

Beritasepekan.Net

Beritasepekan.net tidak hanya menerbitkan portal berita online, kami juga menerbitkan buletin / tabloid mingguan yang kami rangkum dalam waktu 1 minggu terakhir.

Related Articles

Close